text

Selasa, 10 September 2013

Pesawat Merah

aku sangat bahagia seakan aku akan meninggalkan bumi dan menuju indahnya surga, yaa..ini yang sedang aku rasakan. bahagia bersama dengan orang yang aku sangat kagumi, yang aku dambakan selama beberapa bulan ini. di liburan ini Tuhan memiliki rencana yang sempurna untukku.mungkin.
kita 'dia' dan aku menyusuri anak pantai, aku selalu mendengerkan celotehan darinya karena itu hal terpenting yang harus aku lakukan. ''akhir akhir ini, aku sangat terganggu oleh suara bising oleh pesawat capung yang selalu lewat diatas rumahku'' ujar dia. ''hah...pesawat capung?'' tanyaku heran sambil menoleh kearahnya. ''iya, kenapa heran? hahaha pesawat capung itu pesawat yang berwarna merah itu loh'' timpalnya. ''hahaha..kamu bisa aja mengubah namanya''jawabku sambil menahan tawa.
berawal dari percakapan yang aneh itu namun ku nikmati aku berpikir akan mengganti nama dia menjadi pesawat merah, tentu saja tanpa sepengetahuannya. ketika kita duduk diatas batang pohon aku memecah keheningan dengan merengek ingin dibelikan ice cream olehnya ''kenapa harus aku? kamu bisakan beli sendiri? kamu masih punya kaki dan tangan kan?'' jawabnya. aku terdiam karena aku tahu dia akan mengatakannya dan itu sangat membuat hatiku tersayat perih. seorang wanita datang memecahkan keheningan ini. yaa, wanita berkaca mata yang tak asing bagiku. mereka larut dalam percakapan yang menganakan sebuah tawa diantaranya, bahkan dia lelaki yang selama ini bersamaku menganggapku seperti hantu yang tak berwujud. aku mendengar wanita tersebut merengek ingin ice cream padanya seperti halnya padaku. dan aku sangat terkejut bahkan napas ini seakan berhenti beberapa saat. tanpa kata yang kasar oleh lelaki pesawat merah itu ia meng-iyakan. peasawat merah meninggalkan kami berdua untuk membeli ice cream. aku memilih diam ketika aku duduk seorang bersama wanita tersebut. beberapa menit kemudian pesawat merah menghampiri kami dengan dua genggam ice cream ditangannya. aku berkata di dalam hatiku, kenapa dia melakukan untuknya sedangkan aku ia hiraukan dengan kata kasar??...''ini untukmu si gadis manja'' tawarnya si pesawat merah untukku. gadis manja?? apa bedanya aku dengan wanita itu yang sesama merengek padanya, tapi dia hanya mengatakannya padaku?. aku menoleh kearahnya, berdiri lalu aku memilih untuk meninggalkan mereka berdua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar